<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-24620260</atom:id><lastBuildDate>Fri, 18 Dec 2009 13:50:26 +0000</lastBuildDate><title>Between Indonesia and Japan</title><description>a personal perceptive</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-9035262991850169579</guid><pubDate>Sun, 31 Aug 2008 07:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-31T00:15:36.612-07:00</atom:updated><title>Meishi (Kartu Nama)</title><description>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLpElna1hkI/AAAAAAAAACk/JGKvDor2cK0/s1600-h/meishi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLpElna1hkI/AAAAAAAAACk/JGKvDor2cK0/s200/meishi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240576529426384450" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Read this article in &lt;a href="http://japan.myftp.org/japan/customs/pages/custom4.htm"&gt;English&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;Translation copyright : &lt;a href="http://japan.myftp.org"&gt;Closer to Japan&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah kebiasaan umum di Jepang, menawarkan kartu nama saat berkenalan dengan seseorang. Selain nama, biasanya pada kartu ditambahkan pula nama perusahaan, organisasi, status jabatan atau jenis pekerjaan, alamat kantor atau organisasi beserta nomor telepon ataupun faks. Biasanya, sebuah kartu juga menampilkan logo atau lambang perusahaan/organisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu nama yang paling umum di Jepang adalah yang berwarna krem, dengan tulisan yang dicetak hitam dengan karakter huruf Cina. Belakangan ini, kebanyakan menambahkan keterangan yang sama dalam alfabet romawi di belakang kartu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada perbedaan yang kontras antar kartu nama bisnis yang digunakan di Eropa ataupun di Amerika. Utamanya sejak abad ke-19, kartu nama untuk keperluan sosial kemasyarakatan ataupun untuk bisnis, umumnya sama saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartu nama biasanya digunakan pula sebagai "surat perkenalan". Dalam hal ini, biasanya pada kartu ditambahkan catatan khusus yang dirasakan perlu antara yang memberi kartu dan yang akan diberikan kartu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab sopan santun yang berlaku di masyarakat Jepang mengharuskan seseorang yang berada di posisi yang lebih rendah atau berusia lebih muda untuk lebih dulu menawarkan kartu namanya. Saat menyerahkan kartu, hendaknya tulisan pada kartu tersebut menghadap ke penerima, sehingga penerima bisa segera membaca tulisan pada kartu tersebut begitu menerimanya. Adalah dianggap tidak sopan menggunakan kartu yang sudah rusak atau lecek, ataupun yang sudah ada catatannya yang tidak diperuntukkan bagi orang yang akan diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;br /&gt;- Japan, The Land and It's People&lt;br /&gt;-Gates to Japan, Gen Itashaka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Translation copyright : &lt;a href="http://japan.myftp.org"&gt;Closer to Japan&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-9035262991850169579?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/08/meishi-kartu-nama.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLpElna1hkI/AAAAAAAAACk/JGKvDor2cK0/s72-c/meishi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-3834966889125787866</guid><pubDate>Thu, 28 Aug 2008 22:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-28T16:28:07.020-07:00</atom:updated><title>Orang Jepang Olahraga Setiap Hari -- Secara Alami</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLc0XrDJYeI/AAAAAAAAACc/XooCM0G2k_s/s1600-h/exercise.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLc0XrDJYeI/AAAAAAAAACc/XooCM0G2k_s/s200/exercise.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5239714272766419426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Read this article in &lt;a href="http://japan.myftp.org/japan/customs/pages/custom3.htm"&gt;English&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;:: Translation Copyright : &lt;a href="http://japan.myftp.org"&gt;Closer to Japan&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya makanan yang jadi faktor utama orang Jepang bisa berumur panjang dan umumnya cukup sehat. Faktor lainnya adalah karena mereka setiap hari di sepanjang hidup mereka, melakukan olahraga secara alami. "Kesehatan orang Jepang sangat baik dan demikin pula bentuk tubuh mereka," demikian sebuah judul dalam Majalah Time pada tahun 2004 terkait tulisan tentang 'Bagaimana Hidup Sampai 100 Tahun'. Salah satu aktor utama pendukung umur panjang itu adalah "...mereka adalah orang-orang yang sangat aktif yang terlibat dalam kegiatan olahraga yang tidak disengajai setiap hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tua Jepang khususnya, sangat aktif. Makoto Suzuki, seorang professor di Universitas Internasional Okinawa, mengatakan, "Berkebalikan dengan di Amerika, para tetua Jepang tidak perlu sengaja keluar untuk khusus berolahraga -- rutinitas setiap hari sudah membuat mereka cukup langsing dan sehat." Fakta tersebut bila digabung dengan pola makan gizi seimbang, "Itu adalah kombinasi yang melahirkan kemenangan,"tambah Professor Suzuki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil contoh dekat misalnya, keluarga saya sendiri [penulis, Naomi Moriyama]. Ibu saya, Chizuko, berjalan kaki di jalan-jalan Tokyo setiap hari, kadang naik turun tangga, dan pada akhir pekan ia biasanya pergi mendaki gunung bersama teman-temannya. Musim panas yang lalu, kedua orang tua saya mengajak saya dan Billy [suami Naomi] mendaki Gunung Takao, yang sebenarnya merupakan bukit taman nasional setinggi 600 meter di Tokyo. Ketika kami hampir sampai di puncak setelah melakukan pendakian selama kira-kira 1,5 jam, ibu saya mengatakan yang merupakan sebuah fakta, "Saya sama sekali tidak capek!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jutaan orang Jepang lainnya, ayah saya, Shigeo, yang saat ini sudah di awal 70-an, biasa berkeliling di kota dengan sebuah sepeda tua. Bukan sepeda modern 'Lance Armstrong', itu hanya sepeda yang memiliki satu kecepatan. Biasanya ia bersepeda ke rumah saudara perempuan saya berjarak sekitar dua puluh blok untuk menjaga cucu-cucunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, saudara perempuan saya, Miki, bersepeda juga dalam kota, kadang-kadang pergi belanja kebutuhan rumah tangga yang ia taruh di keranjang sepeda bagian depan yang mana di bagian belakang sepeda, ia bonceng keponakan saya, Kasumi yang berusia dua tahun. Sering, Miki menjemput Kazuma, kakak Kasumi, pulang sekolah dengan cara yang sama : bersepeda. Adapun suami Miki, Shiko, lebih aktif lagi, karena ia pekerjaannya memang di bidang olah tubuh : instruktur tari tradisional Jepang dan aktif jadi pengajar di kelas-kelas yang terdapat di dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan-jalan yang sempit dan antara gedung-gedung di seluruh Tokyo, Anda akan mudah melihat orang-orang kantoran bersepeda dan para perempuan juga demikian, pergi belanja keperluan rumah tangga. Dan apa yang terjadi di Tokyo itu, mewakili secara keseluruhan dalam negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjejer panjang di sekitar stasiun kereta, ratusan bahkan mungkin ribuan sepeda itu memberitahu Anda bahwa itu milik orang-orang yang pergi sekolah atau kerja dengan bersepeda dari rumah. Salah satu pemilik sepeda itu adalah paman saya Kazuo, yang saat ini berusia di awal 70-an. Ia tiap hari pergi kerja dari Tokyo ke pinggiran kota. Hujan ataupun cerah, setiap hari Anda dapat melihatnya meninggalkan rumah dan mengayuh sepeda ke stasiun, memarkir sepeda untuk selanjutnya menggunakan kereta, dengan setelan jas kantornya beserta dasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kalau hujan?" tanya saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab dengan enteng, "Memangnya kenapa, saya cuma ambil payung saja, pegang satu tangan dan tangan yang satu mengemudikan sepeda!" Istrinya, Yoshiko, berenang setiap hari dan ia juga seorang pelatih selam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, naik kereta setiap hari di Jepang sudah merupakan olahraga. Stasiun kereta tersebar di seluruh negeri, terletak terpisah-pisah dalam jarak tertentu, yang menuntut orang untuk naik turun tangga dan berjalan kaki antara stasiun yang satu ke stasiun lainnya untuk ganti kereta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan "ketidaksengajaan" berolahraga, banyak orang Jepang yang sudah terbiasa dengan olahraga yang sampai keringatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pagi di Tokyo saat fajar merekah, Anda bisa lihat Keizo Miura yang usianya menjelang 100 tahun melakukan jalan kaki sebelum sarapan dengan telur dan rumput laut. Di usia 99, ia melakukan ski di Mont Blanc, Alpes, Italia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2003, anaknya, Yuichiro Miura yang berusia 72 tahun saat itu, menjadi orang paling tua yang penrah mendaki Gunung Everest -- satu tahun setelahnya ikut pula temannya, Tamae Watanabe, yang dengan usia 63 tercatat sebagai perempuan tertua yang juga mendaki gunung tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang tua Jepang memang diakui sehat, bisa melakukan banyak hal di usia tua mereka, yang mungkin banyak anak muda tak bisa lakukan," kata anak Mr. Miura pada seorang reporter yang sedang membuat tulisan tentang usia panjang orang Jepang. "Orang-orang Jepang yang berusia di atas 65 tahun di sini pada pergi mendaki gunung, pergi ke Cina untuk menanam pohon, melakukan perjalanan ke luar negeri untuk mengajar Bahasa Jepang. Semuanya itu karena diet, olahraga yang alami setiap hari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:: Read this article in &lt;a href="http://japan.myftp.org/japan/customs/pages/custom3.htm"&gt;English&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;:: Translation Copyright : &lt;a href="http://japan.myftp.org"&gt;Closer to Japan&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-3834966889125787866?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/08/orang-jepang-olahraga-setiap-hari.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLc0XrDJYeI/AAAAAAAAACc/XooCM0G2k_s/s72-c/exercise.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-2420802723068800075</guid><pubDate>Sun, 24 Aug 2008 19:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-24T13:00:25.424-07:00</atom:updated><title>Hanko (Stempel Pengganti Tanda Tangan)</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLG9uHdJt_I/AAAAAAAAACU/h7IcbjbwP7I/s1600-h/hanko.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLG9uHdJt_I/AAAAAAAAACU/h7IcbjbwP7I/s200/hanko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238176441581549554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti di umumnya negara-negara barat, sebuah tanda tangan secara hukum tidak diakui legal di Jepang. Pencairan slip penarikan di bank, aplikasi-aplikasi di kantor-kantor pemerintah dan semua jenis dokumen resmi, distempel dengan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;hanko&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; (yang juga disebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;inkan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; ataupun cap, mengikuti nama orang yang bersangkutan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Hanko terbuat dari kayu, gading, tulang, kristal, batu, ataupun bahan lain dan diukir dengan nama keluarga pemiliknya. Biasanya, warna tinta stempel yang ada pada bantalan stempel hanko adalah berwarna merah. Menggunakan dokumen yang distempel dengan benar adalah legal di Jepang, meskipun bukan yang bersangkutan yang menulis nama dari pemilik yang punya hanko. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagi mereka yang memiliki nama keluarga umum (seperti "Sato", "Suzuki", "Kobayashi") bisa membeli hanko yang sudah jadi di toko-toko buku, tapi ketika mereka perlu membeli properti atau melakukan transaksi yang melibatkan sejumlah besar uang, adalah menjadi keharusan untuk membuat hanko yang disebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;jitsuin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; yang secara resmi didaftarkan ke kantor pemerintah. Dan juga, untuk menarik uang dari sebuah rekening bank, hanya bisa dengan memakai hanko yang dijadikan stempel pada buku bank saat rekening baru dibuat atau dibuka. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Untuk transaksi kecil-kecilan, orang biasanya menggunakan hanko yang tidak perlu didaftarkan, yang disebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;mitome-in&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;. Biasa digunakan untuk menyetempel tanda terima pengantaran surat kilat, surat terdaftar dan kiriman barang, dan untuk stempel dokumen di tempat kerja. Itulah sebabnya kehadiran hanko dalam kehidupan sehari-hari sangat terasa. Begitu seringnya hanko digunakan, hingga hidup rasanya hampir tidak mungkin tanpa memiliki satu hanko.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mulai dari anak usia SD, sudah perlu memiliki satu hanko. Harga pembuatannya yang paling murah adalah sekitar 80 ribu hingga 150 ribu rupiah perbuah. Adapun mereka yang punya nama marga yang umum, bisa membeli hanko yang sudah jadi di toko-toko yang menjual semua item barangnya seharga 100 yen atau delapan ribu rupiah. &lt;br&gt;&lt;br&gt;::Translation copyright : &lt;a href="http://japan.myftp.org"&gt;Closer to Japan&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-2420802723068800075?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/08/hanko-stempel-pengganti-tanda-tangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLG9uHdJt_I/AAAAAAAAACU/h7IcbjbwP7I/s72-c/hanko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-4125807872237315512</guid><pubDate>Sun, 24 Aug 2008 08:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-24T12:37:44.586-07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>custom</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>japan</category><title>(Gaya Hidup di Jepang) : Uang Tip (Kokorozuke)</title><description>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLEidUgUFrI/AAAAAAAAACM/oubtTLUYh9o/s1600-h/kokorozuke.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5238005728724391602" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLEidUgUFrI/AAAAAAAAACM/oubtTLUYh9o/s200/kokorozuke.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; :: Read this article in &lt;a href="http://japan.myftp.org/"&gt;English&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sebenarnya secara umum tidak ada kebiasaan memberi tip di Jepang, ada sejumlah orang yang dengan sengaja memberi tip pada para pelayan atau para koki sebagai tanda penghargaan saat bermalam di penginapan tradisional Jepang yang dikenal dengan nama &lt;strong&gt;&lt;em&gt;ryoukan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Uang tip ini, yang dalam bahasa lokalnya disebut &lt;strong&gt;&lt;em&gt;kokorozuke&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, biasanya dimasukkan ke dalam sebuah amplop khusus yang biasa banyak dijual di toko-toko, baik stationary ataupun di toko keperluan sehari-hari. Kebiasaan memakai amplop ini adalah sebuah kelaziman, yang mana sebaliknya, adalah tidak lazim memberikan tip secara langsung tanpa "disembunyikan" dalam suatu bungkusan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Biasanya, beberapa orang memberi tip pada orang yang membantu mereka, ataupun pegawai pada masa-masa suatu festival dilangsungkan ataupun peristiwa-peristiwa khusus, sebagai salah satu bentuk bonus atau hadiah khusus kepada para pegawai yang mereka terima di luar uang gaji. Uang yang diberikan dalam situasi seperti ini biasanya ditempatkan di dalam amplop yang dikenal dengan nama &lt;strong&gt;&lt;em&gt;shuugibukuro&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, juga bisa didapatkan di toko-toko.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Dalam sebuah pementasan seperti teater ataupun di lapangan-lapangan olahraga semisal baseball, bonus juga biasa diberikan kepada para staf yang dimasukkan dalam amplop yang dikenal dengan nama &lt;strong&gt;&lt;em&gt;ouiribukuro. &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun, bagaimanapun, perlu diingat bahwa dapat dipastikan tidak ada kebiasaan memberi tip di hotel biasa, rumah makan modern, stasiun, bandar udara, dan fasilitas modern lainnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;:: Translation copyright : &lt;a href="http://japan.myftp.org/"&gt;Closer to Japan. &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Gen Itasaka, Gates to Japan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-4125807872237315512?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/08/gaya-hidup-di-jepang-uang-tip.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SLEidUgUFrI/AAAAAAAAACM/oubtTLUYh9o/s72-c/kokorozuke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-1635106316859303873</guid><pubDate>Wed, 20 Aug 2008 05:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-20T00:15:50.722-07:00</atom:updated><title>Obon (Festival untuk Para Arwah)</title><description>&lt;a href="http://japan.myftp.org/japan/festivals/pages/obon.htm"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Read this article in English&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SKu6J8LHV0I/AAAAAAAAACE/CNIn_RPSwEU/s1600-h/obon.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236483671682668354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SKu6J8LHV0I/AAAAAAAAACE/CNIn_RPSwEU/s200/obon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pekuburan di lembah yang terletak di Pulau Gotou, dekat Nagasaki, mulai berkilauan diterangi cahaya dari ratusan lampion kertas musiman, seiring dengan dilangsungkannya Obon, atau festival untuk para arwah. Festival ini dilangsungkan tiap tanggal 17 bulan ketujuh dari sistem kalender bulan. Seluruh penduduk desa berkumpul di arena pekuburan di bawah cahaya lampion-lampion, di mana khususnya anak-anak, bergembira dengan menyalakan kembang api.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ada banyak tarian sederhana terkait dengan festival obon ini, yang digelar di keseluruhan wilayah Jepang, di mana setiap orang yang menghadiri boleh ikut berpartisipasi. Tapi khususnya di Pulau Gotou, tarian untuk festival ini disiapkan dengan sangat khusus dan berbelit-belit. Kostum penari terdiri atas hiasan di kepala yang cukup besar, terbuat dari kertas dan tangkai-tangkai yang masih hijau, kimono putih, rok yang terbuat dari rumput, dan drum yang digantungkan di pinggang penari yang dibunyikan dengan suara yang berdebam sangat keras dengan pentungan yang juga sudah dihiasi secara khusus. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Para pemuda yang mementaskan tarian bernyanyi dengan keras mengiringi dentuman drum yang mereka pukul sementara berjalan mengunjungi rumah keluarga atau teman yang telah meninggal untuk menghibur arwah mereka yang telah ditinggal pergi. Mereka menari dengan penuh semangat, meriah, dan bergerak dengan pola yang telah tertentu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di kota yang tenang, Tamanoura, pada malam 13 Juli. Delapan pemuda berpartisipasi dengan berpakaian seperti kostum yang telah digambarkan di atas. Kepala drum mereka terbuat dari bagian hati ikan paus yang menghasilkan nada-nada tinggi. Setelah mengunjungi rumah-rumah yang baru saja mengalami musibah kematian, mereka menari dari lembah ke pekuburan, di mana mereka mempersembahkan tarian khusus di depan kuburan kuno orang yang meninggal dalam perang yang ada di Kastel Tamanoura. Tarian tersebut untuk menghibur arwah pasukan, atas kematian mereka yang menyedihkan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menari di depan kuburan ksatria kenamaan adalah salah satu keumuman yang dipraktekkan dalam festival obon yang dilangsung di seluruh Jepang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Festival obon berasal dari kepercayaan agama Budha. Diyakini bahwa arwah-arwah dari orang yang telah meninggal kembali ke rumah mereka masing-masing di waktu-waktu tersebut. Untuk itu, mereka harus disambut dengan sebaik-baiknya, dihibur, dan dilepas kembali di saat mereka sudah siap untuk pergi kembali. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Upacara tradisional di Pulau Gotoo dijabarkan secara khusus terkait dengan Festival Obon, karena keunikannya. Festival obon lainnya dilangsungkan di seluruh Jepang, tapi biasanya hanya berbentuk tarian massal, nyanyian yang bising, dan permainan kembang api sebagai ekspresi kegembiraan berkumpul kembali dengan arwah orang-orang yang dicintai. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Diterjemahkan dari : Hideo Haga, Japanese Festivals.&lt;br /&gt;Translation copyright :&lt;/span&gt;&lt;a href="http://japan.myftp.org/"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; Closer to Japan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-1635106316859303873?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/08/obon-festival-untuk-para-arwah.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/__MmiZDjIaj0/SKu6J8LHV0I/AAAAAAAAACE/CNIn_RPSwEU/s72-c/obon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-1552340685700624245</guid><pubDate>Wed, 04 Jun 2008 09:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-04T02:36:33.327-07:00</atom:updated><title>Gagak Jepang yang Merepotkan</title><description>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SEZh5JK4zcI/AAAAAAAAAB8/-FMSHNIJhaQ/s1600-h/sampahditutupjaring.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5207957653442579906" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SEZh5JK4zcI/AAAAAAAAAB8/-FMSHNIJhaQ/s320/sampahditutupjaring.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;:: Tulisan ini dimuat di &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.panyingkul.com/view.php?id=881&amp;amp;jenis=kabarkita"&gt;&lt;span style="color:#999999;"&gt;http://www.panyingkul.com/view.php?id=881&amp;amp;jenis=kabarkita&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Japan Fights Crowds of Crows&lt;/em&gt;. Begitulah judul berita International Herald Tribun edisi bulan lalu, yang mengulas masalah burung gagak. Kawanan burung berbulu hitam ini memang semakin berulah. Mulai dari mencuri makanan, membongkar sampah, hingga membuat aliran listrik padam di Kyushu, Jepang Selatan gara-gara seenaknya membuat sarang di tiang-tiang listrik. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kenapa di Tokyo banyak burung gagak? Pertanyaan ini juga tak jarang terlontar dari orang-orang yang pertama kali berkunjung ke ibukota Jepang ini. Tak hanya di Tokyo, burung ini memang populasinya banyak sekali di Jepang, berbanding terbalik dengan masalah nasional penurunan populasi akibat rendahnya tingkat kelahiran dan banyaknya jumlah lansia. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Menurut para ahli, jumlah gagak di Tokyo saja ada 150.000 ekor. Angka yang sangat besar, tentu saja. Tak ayal, kehadiran gagak ini merepotkan masyarakat. Pemerintah, universitas dan perusahaan swasta memberi sarana dan fasilitas kepada para penelitinya untuk melakukan observasi terhadap burung gagak. Tujuannya, bagaimana agar burung tersebut bisa dikurangi populasinya dan untuk menemukan cara mengantisipasi gangguan dari burung-burung itu. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah satu peneliti yang cukup terkenal adalah Prof. Sugita Shoei dari Universitas Utsunomiya. Dari penelitiannya terungkap bahwa gagak yang biasanya suka mengacak-acak kantong sampah hingga isinya berhamburan keluar, tidak punya kepekaan terhadap plastik kuning semi transparan. Sejak penemuan ini, mulailah diproduksi kantong plastik sampah kuning yang kabarnya tidak diminati oleh para gagak itu. Namun sayang, harganya yang cukup mahal dibandingkan plastik sampah biasa membuat hasil temuan sang professor kurang diminati masyarakat. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selanjutnya pemerintah, khususnya di kota Fujisawa, provinsi Kanagawa, mengeluarkan peraturan bahwa pembuangan sampah di daerah ini mesti menggunakan plastik khusus, yang didistribusikan di toko-toko yang buka 24 jam ataupun supermarket serta toko-toko obat di seluruh kota.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dikatakan bahwa gagak adalah jenis binatang yang atama ii atau cerdas. Misalnya saja gagak akan mengingat wajah serta warna/jenis kendaraan orang yang pernah mengganggunya, dan bila suatu waktu orang ini kembali ke daerah gagak tersebut hidup, ia akan memanggil kawan-kawannya dan melakukan serangan balasan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Salah seorang sukarelawan pengajar bahasa Jepang di Shounandai Shiminkan, Fujisawa, pernah bercerita soal kepandaian burung gagak ini. Hayashi-sensei, perempuan Jepang setengah baya itu punya kebiasaan memesan bahan makanan seperti daging, ikan dan sayur-mayur lewat pos, yang akan diantar ke rumah pemesan seminggu sekali. Suatu waktu Hayashi pulang dari bepergian dan ditemuinya kardus makanan pesanan tersebut diletakkan di depan pintu. Memang begitulah sistem di Jepang, pemesanan rutin seperti itu sering kali tidak mesti diserahkan tangan ke tangan. Pesanan berkotak besar yang isinya mungkin bernilai sekitar ratusan ribu rupiah itu, cukup diletakkan di luar, dan biasanya tidak akan ada yang mengambilnya. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada sekilas pandangan pertama, Hayashi-sensei tak menaruh curiga apapun terhadap kotak yang terbuat dari bahan gabus itu. Namun begitu ia mengangkat kardus tersebut, tahulah ia bahwa ada yang tidak beres dengan kotak yang masih terbungkus rapi itu. Kardus itu terlalu ringan untuk memuat pesanannya! Dan benarlah, ketika ia membuka tutupnya, isinya sudah hampir kosong. Selidik punya selidik, ternyata ada lubang di belakang kardus. Lubang bekas patukan paruh burung gagak! &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kabarnya, sejak sekitar tahun 1990, burung gagak di Jepang berhasil menemukan cara baru memecahkan dongguri, yaitu biji-bijian seperti kacang. Mereka meletakkan dongguri yang kulitnya cukup keras itu di tengah jalan raya. Pada awalnya mereka menunggu lampu lalulintas menjadi merah. Selanjutnya mereka meletakkannya di tengah kendaraan yang berhenti. Bila lampu hijau, gagak menunggu adakah dongguri mereka terlindas ban mobil atau tidak. Bila ternyata tidak, gagak Jepang akan memindahkannya di tempat berbeda, menunggu kembali kendaraan lain melintas. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sejumlah cara telah dicoba untuk menghalau gagak. Biasanya di taman-taman terbuka atau kouen itu diberi peringatan agar jangan memberi makan burung merpati. Sebenarnya, salah satu sebabnya juga karena selain merpati, burung gagak akan mencicipinya juga. Dan ini bisa membuat jumlah burung gagak makin meningkat. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Asahi Shinbun, salah satu koran terkemuka di Jepang pernah juga secara khusus menurunkan artikel tentang bagaimana cara mengatasi serangan dan gangguan gagak. Salah satunya adalah dengan membuat mereka kesulitan untuk melestarikan keberlangsungan hidupnya. Sarang burung gagak biasanya dirangkai dari gantungan baju yang terbuat dari kawat. Karenanya, sebaiknya jangan tinggalkan gantungan baju kawat ini tergeletak begitu saja di luar rumah, karena gagak akan semakin mudah membuat sarangnya. Selain itu, bila membuang sampah yang bisa terbakar, mesti diperhatikan bahwa sampah tersebut tak bisa dikoyak gagak, yang suka mencari sampah makanan sisa. Makanya, kantong-kantong sampah itu ditutup lagi dengan jaring, agar tidak dipatuk oleh gagak. Asahi Shinbun, salah satu koran terkemuka di Jepang pernah juga secara khusus menurunkan artikel tentang bagaimana cara mengatasi serangan dan gangguan gagak. Salah satunya adalah dengan membuat mereka kesulitan untuk melestarikan keberlangsungan hidupnya. Sarang burung gagak biasanya dirangkai dari gantungan baju yang terbuat dari kawat. Karenanya, sebaiknya jangan tinggalkan gantungan baju kawat ini tergeletak begitu saja di luar rumah, karena gagak akan semakin mudah membuat sarangnya. Selain itu, bila membuang sampah yang bisa terbakar, mesti diperhatikan bahwa sampah tersebut tak bisa dikoyak gagak, yang suka mencari sampah makanan sisa. Makanya, kantong-kantong sampah itu ditutup lagi dengan jaring, agar tidak dipatuk oleh gagak. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Saya sendiri mengalami pengalaman menarik dengan burung gagak. Suatu sore di akhir musim semi saya dan keluarga singgah di taman sehabis berbelanja. Belanjaan yang berupa dua kantong plastik besar, diletakkan di dalam keranjang sepeda. Saat hendak pulang, kantong plastik yang berada di keranjang sepeda sudah robek. Udang dan ikan segar sudah raib, hanya tinggal wadahnya, tergeletak di bawah pohon. Sementara di atas pohon, bertengger dua ekor gagak hitam, mengumandangkan teriakan kemenangan: kwaaak, kwaaak, kwaaak &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-1552340685700624245?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/06/gagak-jepang-yang-merepotkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SEZh5JK4zcI/AAAAAAAAAB8/-FMSHNIJhaQ/s72-c/sampahditutupjaring.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-5388600394852780975</guid><pubDate>Thu, 29 May 2008 05:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-28T22:43:26.495-07:00</atom:updated><title>Pemeliharaan Waktu</title><description>Kamis, 17 April 2008. &lt;a href="http://bp1.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SD456-Wmu7I/AAAAAAAAABw/zMPnot-mquI/s1600-h/tanggal.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205661904619879346" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SD456-Wmu7I/AAAAAAAAABw/zMPnot-mquI/s320/tanggal.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari pertama sekolah usai liburan kenaikan kelas, yang sekaligus sebagai liburan musim semi. Meski ini liburan kenaikan kelas, ternyata tidak sama dengan di Indonesia, liburan ini justru yang paling singkat dibandingkan dua liburan lainnya. Total cuma sepuluh hari, itupun dengan memasukkan Sabtu dan Minggu juga. Padahal, libur musim dingin yang merupakan perpindahan dari cawu dua ke cawu tiga, bisa berlangsung selama hampir dua pekan. Apalagi liburan musim panas, yang merupakah masa perpindahan dari cawu pertama ke cawu kedua. Lamanya bisa sampai hampir satu setengah bulan. &lt;div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya baru menyadari perasaan aneh yang meliputi pikiran dan perasaan terkait dengan salah satu sistim di Jepang ini. Aneh, karena anak-anak mulai sekolah dengan status baru : kalau dulu anak kelas tiga, kini kelas empat; di hari yang bukan Senin, tapi Jumat. Ya, memulai suatu aktifitas tahunan, ternyata tak selalu menunggu hari Senin. Apakah mungkin hanya ingatan saya saja yang salah; bahwa umumnya di Indonesia, setidaknya sekitar sepuluh tahunan yang lalu, hari sekolah, permulaan bekerja di kantor, selalu dimulai di hari Senin?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini, sepertinya satu lagi jawaban pertanyaan : apa yang membuat Jepang bisa maju dibandingkan banyak negara lain? Salah satunya mungkin adalah karena mereka lebih menghargai waktu daripada kebanyakan bangsa lain. Ini gambaran yang sifatnya umum. Bagaimana dengan sampel yang lebih spesifik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mungkin persoalan memulai aktifitas besar seperti hari ini, memulai sekolah baru, atau memulai kerja di kantor bagi para pegawai baru, yang mengambil permulaan di hari Kamis. Seingat saya, tahun lalu, malah mulainya hari Jumat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kembali ke liburan kenaikan kelas yang sepuluh hari ini. Tak peduli hari apa jatuhnya, Senin-kah, atau Jumat-kah, mereka akan segera memulai sesuai agenda. Sepuluh hari ya sepuluh hari saja. Bulat. Tidak ada istilah "hari terjepit", yang perlu dijadikan pembenaran untuk minta tambahan libur. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain tidak ada hari terjepit, etos kerja masyarakat Jepang juga tercermin pada istilah lain yang dikenal dengan sebutan "in-time". Artinya tiba di tempat sepuluh menit sebelum acara. Saya melihat prinsip ini jadi sikap yang cukup kental mendarah daging di komunitas mereka pada berbagai acara bersama. Entah itu acara yang terkait dengan usaha jasa yang melibatkan sektor ekonomi, entah itu berkaitan dengan acara santai jalan-jalan dengan teman, bahkan dalam kegiatan yang sifatnya sukarela pun, kesungguhan masyarakat Jepang memelihara waktu, mudah terlihat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya saja kegiatan kursus bahasa Jepang yang guru-gurunya adalah para sukarelawan. Yang namanya sukarelawan, ya tentu tidak dibayar. Tapi, pada kenyataannya, murid-muridlah yang sering terlambat, sedangkan para guru yang orang Jepang itu, biasanya sudah datang sepuluh menit sebelum waktu kursus dimulai. Saya biasa menyaksikan kedatangan para guru karena memang saya sengaja datang lebih cepat sekitar setengah jam sebelumnya, karena ingin mendapat waktu privat belajar di sana meski hanya di tempat duduk di luar kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita kepiawaian masyarakat Jepang memenej waktu juga terlihat pada proses pindahnya Toyota --pabrik mobil yang dalam ensiklopedia sains disebut menghasilkan mobil satu per enam detik-- dari satu gedung ke gedung lain. Bayangkan, satu gedung dengan puluhan tingkat, pindah ke gedung lain. Hanya perlu satu minggu untuk menuntaskannya. Hari pertama setelah proses pindah yang satu minggu itu, semua pegawai bisa bekerja normal seperti biasanya, tak kerepotan kehilangan atau mencari file-file dari gedung yang lama. Rencana pindah ini dipersiapkan selama empat tahun. Mereka menghitung berapa truk yang diperlukan, berapa lama proses mengangkat berapa peti ke dalam truk, berapa lama jarak tempuh truk dari gedung lama ke gedung lain, di mana parkirnya, pakai apa angkut petinya... dan lain-lain..., sampai ke hal yang sangat-sangat detil. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-5388600394852780975?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/05/pemeliharaan-waktu.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SD456-Wmu7I/AAAAAAAAABw/zMPnot-mquI/s72-c/tanggal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-6909251600222642465</guid><pubDate>Thu, 29 May 2008 04:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-28T22:01:58.154-07:00</atom:updated><title>Budaya Kartu Nama</title><description>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SD437OWmu6I/AAAAAAAAABo/pH8fMtpIl30/s1600-h/namecard3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205659709891591074" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SD437OWmu6I/AAAAAAAAABo/pH8fMtpIl30/s320/namecard3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Salah satu budaya dalam masyarakat Jepang adalah budaya saling bertukar kartu nama, atau &lt;em&gt;meishi &lt;/em&gt;(名詞). Setiap perusahaan Jepang yang establis biasanya akan membuatkan kartu nama gratis bagi para stafnya. Biasanya dibuat timbal balik, halaman yang satu memuat informasi dalam bahasa Jepang, halaman sebelahnya dalam bahasa Inggris. Meishi yang sifatnya berkaitan dengan kantor, biasanya tidak menyertakan nomor telepon pribadi, alamat pribadi, dan email pribadi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak jasa pembuatan kartu nama dengan bermacam-macam harga. Biasanya sekitaran 500 hingga 1000 yen, meski ada juga yang lebih mahal dari itu. Dewasa ini cukup mudah membuat kartu nama sendiri, bila sudah punya printer yang memadai. Bahkan banyak juga alat khusus mencetak di kartu nama, dari yang untuk keperluan "serius" sampai yang sekedar mainan anak, usia SD kelas empat ke atas hingga SMU. Biasanya mereka menggunakan alat ini untuk membuat kartu nama dengan model khas anak-anak dan remaja, penuh warna dan hiasan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti dalam banyak hal lain, masyarakat Jepang punya adab sendiri soal saling bertukar kartu nama. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, hendaklah orang yang lebih muda atau orang yang lebih di bawah posisinya, yang lebih dulu menyerahkan kartu namanya. Semisalnya kita baru pindah rumah, di lokasi yang baru, hendaklah kita sebagai pendatang baru, lebih dulu memberikan kartu nama pada tetangga yang kita anggap penting, seperti ketua RT atau tetangga yang tepat bersebelahan atau berhadapan rumah. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, saat menyerahkan kartu nama, pastikan posisinya terbalik dari kita sebagai si pemberi, dan tidak terbalik bagi si penerima. Artinya, begitu kita sodorkan, tulisan yang tertera di kartu nama tersebut segera bisa terbaca oleh yang kita sodori. Lebih sopan lagi menyerahkan dengan kedua tangan, dengan menjepit dua ujung kartu tersebut di antara jempol dan telunjuk tangan kiri dan kanan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketiga, jangan sekali-kali memberi kartu nama yang sudah lecek, ada bekas lipatan, atau coretan. Itu bisa dianggap tidak sopan dan tidak berniat untuk menjadi kenalan dengan baik, bahkan bisa dianggap merendahkan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu-ibu rumah tangga biasanya cukup menyiapkan kartu nama kosong, dan mengisinya sesuai keperluan. Nomor telepon pribadi kadang-kadang ditambahkan dengan menulisnya sendiri saat hendak menyerahkan ke kenalan baru, bila dianggap perlu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang Jepang biasanya punya kebiasaan segera memberi catatan pada kartu nama yang mereka terima, tentang latar belakang penerimaan kartu tersebut. Misalnya di mana dan dalam acara apa. Dengan demikian, mereka akan bisa mengingatkan kembali si empunya kartu nama di mana dan kapan mereka bertemu pertama kali bertukaran kartu nama. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-6909251600222642465?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2008/05/budaya-kartu-nama.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/__MmiZDjIaj0/SD437OWmu6I/AAAAAAAAABo/pH8fMtpIl30/s72-c/namecard3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-117130621518428054</guid><pubDate>Mon, 12 Feb 2007 18:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-02-12T10:50:15.200-08:00</atom:updated><title>Jepang : yang Berbeda dengan Negeri Rayuan Pulau Kelapa</title><description>1. Mudah menemukan taman bermain umum, yang lazim disebut ko-en (taman kecil). Di koen, biasanya ada fasilitas tempat duduk, permainan anak berupa perosotan, ayunan, tempat bergantungan atau panjatan, kolam pasir. Selain itu, juga tersedia kran air minum sekaligus kran cuci tangan. Semua sarana ini rutin dirawat oleh pemerintah lokal (kecamatan) ataupun penduduk setempat yang biasanya mengadakan kerja bakti kebersihan lingkungan minimal sebulan sekali. Kebetulan rumah kami tepat berhadapan dengan satu koen. Saya biasa menyaksikan bagaimana petugas kecamatan rutin memeriksa kondisi fasilitas koen. Pasir di kolam pasir diganti berkala, pohon yang terlalu lebat dipotong, rumput dipangkas, air minum dicek keamanannya. Mereka melakukan ini dengan gaya yang sangat profesional, sampai melakukan pemotretan dari berbagai sisi dengan kamera digital. Meski hujan ataupun panas, saya lihat mereka tetap mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemilik toko berani menaruh barang dagangannya di luar toko tanpa pengawasan. Selain itu, kalau kita masuk toko, tidak bakalan ada petugas yang mengekori kita, apalagi dengan kasar segera membereskan barang yang sudah kita pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Uang-uang kertas di Jepang biasanya sangat terawat. Agak sulit ditemukan uang yang lecek habis terlipat-lipat apalagi dikucek-kucek atau bahkan ditulisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Orang Jepang lebih banyak memakai sarana transportasi kereta dan sepeda. Ini menyebabkan polusi udara tidaklah banyak. Biasanya satu keluarga memiliki paling banyak satu mobil saja, mereka akan terheran-heran bila mengetahui di Indonesia, satu keluarga bisa memiliki dua-tiga mobil sekaligus. Ini karena mereka harus membayar parkir yang cukup mahal, sekitar Rp.600.000 perbulan permobil. Kalaupun mereka punya garasi sendiri, biasanya memang tidaklah besar, cukup untuk satu mobil. Nah, yang menarik adalah soal kepemilikan sepeda. Kalau ini, bisa satu anggota keluarga memiliki satu sepeda. Kami sendiri memiliki total lima sepeda. Anak kecil dilatih sedini mungkin untuk bisa bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Orang Jepang biasanya makan makanan yang segar. Seorang ibu rumah tangga biasanya memasak tiga jenis masakan berbeda untuk tiga kali waktu makan yang berbeda. Mereka juga sangat mengutamakan variasi makanan. Suatu waktu saya pernah dalam perawatan medis, dan saya diminta memakan 30 jenis bahan makanan dalam sehari! Tidak masuk akal? Masuk akal kok. Coba saja diurut : bawang bombay, bawang putih, pisang, tomat, bayam, wortel, kentang, ikan, cabe, merica, jinten, susu, keju, roti, brokoli, timun, ... Ya, semua memang dihitung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Untuk pecahan mata uang, mereka punya sampai pecahan 1 yen. Sehingga, tidak ada namanya sistem pembulatan angka dalam transaksi dagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Taksi biasanya agak jual mahal. Bila kita memesan taksi, biasanya mereka akan bertanya tujuan kita. Setelah itu, mereka akan menolak bila kita mengubah rencana. Tempat duduknya ditutup dengan kain putih berenda, yang supirnya tak segan-segan memprotes bila jadi kotor karena sepatu anak-anak, misalnya. Mereka juga biasanya enggan mengangkut penumpang ibu hamil tua, takut melahirkan di taksi, barangkali. Pintunya terbuka dan tertutup otomatis. Harga kilometer pertama sekitar Rp40.0000. Untuk jarak sekitar tiga km, biasanya tarifnya sekitar Rp100.000. Kelihatannya jauh lebih mahal daripada taksi di Indonesia, tapi memang jauh lebih nyaman. Tidak hanya bagi penumpang, juga buat lingkungan : jarang yang kondisnya sampai sudah mengeluarkan asap polutan. Oya, supir taksinya juga biasanya pakai setelan jaz dan sarung tangan putih. Menurut guru bahasa Jepang saya, hampir tidak ada kejahatan yang dimotori para supir taksi, seperti misalnya jadi perampok dan semacamnya. Mereka semua legal, dan memang menjadi supir taksi termasuk pekerjaan yang cukup elegan dalam masyarakat. Saya pernah naik taksi, dan supir taksi mengatakan, dia menyupir karena ingin mengumpulkan uang agar bisa membeli binatang peliharaan berupa babi mini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-117130621518428054?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2007/02/jepang-yang-berbeda-dengan-negeri.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-115751832024677626</guid><pubDate>Wed, 06 Sep 2006 04:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-28T23:25:00.283-07:00</atom:updated><title>Ketidakadilan Jender di Kekaisaran Jepang</title><description>Dimuat di : &lt;a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0610/09/swara/3009600.htm"&gt;Kompas&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.menegpp.go.id/menegpp.php?cat=detail&amp;amp;id=artikel&amp;amp;dat=228"&gt;Kementerian Pemberdayaan Perempuan &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki! Begitu kabar itu merebak di pagi tanggal 6 September lalu, kegembiraan pun meluap di seantero Jepang. Kelahiran bayi laki-laki pasangan Pangeran Akishino dan Putri Kiko itu juga segera menjadi berita utama media asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor berita AP memberitakan detik-detik kelahiran sang bayi. BBC, Washington Post, Yahoo, Wikipedia dan media lainnya sudah memperbarui situsnya dengan berita tersebut dalam hitungan menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu 41 tahun, akhirnya keluarga Kaisar Jepang mendapatkan anggota keluarga baru berjenis kelamin laki-laki. Bayi laki-laki itu kini berada di urutan ketiga ahli waris takhta kekaisaran setelah Putra Mahkota Naruhito dan Pangeran Akhisino (anak kedua Kaisar dan sekaligus ayah sang bayi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik kegembiraan menyambut sang bayi laki-laki itu, ada pertanyaan mendasar mengenai ketidakadilan jender yang mendera anggota kekaisaran berkelamin perempuan. Tahun-tahun sebelumnya, bukan nama Putri Kiko yang sering disebut media dan masyarakat Jepang, melainkan istri putra mahkota, yakni Putri Masako.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana perasaannya setelah kelahiran bayi laki-laki itu, adakah dia merasa kalah, atau sebaliknya mendapatkan kembali kemerdekaannya, terlepas dari impitan kewajiban yang dibebankan negara kepadanya yang sebenarnya di luar kemampuan kebanyakan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sumber depresi terbesarnya selama ini karena tidak bisa memberi putra laki-laki, melainkan hanya seorang putri. Undang-Undang Kekaisaran Jepang Tahun 1947 yang mensyaratkan kelelakian untuk menjadi kaisar menjadi pemicu depresi putri diplomat yang sekaligus profesor di Universitas Harvard ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola tradisional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah pada usia 30 tahun, Masako Owada harus rela melepas karier cemerlangnya mengikuti jejak sang ayah, menjadi diplomat. Masako juga lulusan Harvard dengan predikat magna cum laude. Masako juga pernah kuliah di Universitas Tokyo dan Universitas Oxford jurusan hubungan internasional. Prestasi akademik yang gemilang itu ternyata tak memberinya banyak kemudahan saat kembali berhadapan dengan pola kehidupan "tradisional" yang umumnya masih memandang perempuan tidak lebih sebagai mesin penghasil anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Aiko, bayi sehat dan cantik itu, belum lagi bisa membaca koran, tetapi sudah jadi topik hangat dalam perdebatan di parlemen tentang undang-undang kekaisaran. Akankah undang-undang diubah agar kekaisaran tetap jatuh di garis darah yang semestinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua sepupu Putri Aiko, Putri Mako dan Putri Kako, memang sudah tereliminasi peluangnya sejak kelahiran Putri Aiko. Kedua putri itu adalah anak dari Pangeran Akishino, putra kedua Kaisar Akihito, yang pada tahun 1990 menikahi Kawashimo Kiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan tersebut mendapat sorotan agak negatif kala itu sebab baru pertama kali dalam sejarah Kekaisaran Jepang seorang pangeran menikahi rakyat biasa. Meskipun Putri Michiko, istri Kaisar Akihito, juga tak punya darah kebangsawanan, tetapi permaisuri kaisar itu berasal dari keluarga sangat kaya. Yang juga dianggap tabu, Pangeran Akishino menikah mendahului kakaknya, Putra Mahkota Naruhito. Kemudian, Pangeran Akishino dan juga calon istrinya, Kawashimo Kiko, masih berstatus mahasiswa S-1 di Universitas Gakushuin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Putri Masako, Putri Kiko dinilai masyarakat Jepang masih pantas mewakili sosok perempuan tradisional Jepang. Meskipun juga melewatkan sebagian masa kecil dan remajanya di Amerika Serikat dan menyelesaikan studinya hingga mendapat gelar master di bidang psikologi dari Universitas Gakushuin pada tahun 1995, Putri Kiko tak pernah bekerja dan tak pernah aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, seperti halnya Putri Masako yang sempat terlibat dalam diplomasi tingkat tinggi internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Putri Masako sebagai figur perempuan modern Jepang kerap diulas media. Dari gaya rambut hingga cara sang putri tertawa begitu lebar dalam perjalanan wisatanya bersama keluarga Ratu Beatrix, Belanda, bulan Agustus lalu, mendapat sorotan berbagai kalangan. Diberitakan, perjalanan wisata ke Eropa bersama suami dan anaknya itu adalah bentuk pencarian kemerdekaan dari adat Kekaisaran Jepang yang dikenal sangat ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media dan masyarakat Jepang seperti memosisikan dua putri ini sebagai saingan satu sama lain, tetapi sama-sama hampir tak memenuhi harapan kekaisaran untuk melahirkan bayi laki-laki sebagai penerus takhta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah Sakit Aiiku, melalui persalinan caesar yang juga jadi persalinan caesar pertama dalam Kekaisaran Jepang, Putri Kiko pada usianya yang ke-39 melahirkan bayi laki-laki dengan bobot 2,588 kilogram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, media tak lagi menyorot wanita yang memegang nilai magna cum laude dari Universitas Harvard, tetapi dia mesti menerima kenyataan hingga kini gagal melahirkan bayi laki-laki untuk Kekaisaran Jepang. Sorotan kamera dan tulisan- tulisan media akan berganti fokus ke keluarga Putri Kiko. Perdebatan tentang undang- undang kekaisaran di parlemen untuk sementara akan mereda. Tetapi, gerangan apa jadinya bila kelak Putri Masako hamil lagi dan juga melahirkan bayi laki-laki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengakar dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri Masako dan Putri Kiko adalah dua perempuan yang secara biologis tak punya keistimewaan apa-apa dibandingkan dengan perempuan lain. Akan tetapi, kehidupan keduanya yang diberitakan secara luas membawa pesan serius betapa ketidakadilan terhadap perempuan mengakar begitu dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan yang sama juga berlaku di banyak kelompok masyarakat dan sosial. Perempuan, entah berdarah ningrat atau tidak, umumnya dihadapkan pada pertanyaan rutin yang sama: setelah lewat masa remaja akan ditanyai kapan menikah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, akan ditanyai kapan punya anak? Setelah punya anak satu, akan ditanyai kapan memberi adiknya? Setelah punya beberapa anak, akan ditanyai lagi berapa laki-laki, berapa perempuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak tempat di Asia, misalnya, perempuan begitu terperangkap oleh beban sosial yang demikian berat. Kisah kedua putri di keluarga Kekaisaran Jepang ini kurang lebih ada refleksi dari ketidakadilan ini. Bedanya, jika perempuan kebanyakan hanya ditanyai keluarga, kerabat, dan lingkungan sekitarnya, maka Putri Masako dan Putri Aiko dibebani oleh keluarga kekaisaran dan juga negara sebab "adalah tugas mereka" melahirkan penerus takhta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang dirayakan oleh hampir seluruh rakyat Jepang itu, saya menyaksikan potret buram dominasi patriarki yang mengerangkeng kedua putri itu. Bagaimana seandainya berita yang tersebar hari itu adalah "Seorang perempuan!" Putri Kiko melahirkan bayi perempuan yang cantik dan sehat. Akankah negara dan rakyat Jepang tetap menyambutnya sebagai pahlawan penyelamat generasi kekaisaran? ===&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-115751832024677626?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2006/09/jepang-cerita-dua-puteri-dan-anak-laki.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-115694576703190890</guid><pubDate>Wed, 30 Aug 2006 12:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-08-30T19:53:28.766-07:00</atom:updated><title>Musim Panas di Jepang</title><description>Mungkin, banyak penduduk daerah tropis yang berpikir, musim panas di daerah empat musim, sama saja dengan cuaca sepanjang tahun di tempat mereka yang hanya dua musim. Pertanyaan seperti itu sering juga diajukan orang-orang Jepang kepada saya. Umumnya mereka mengira, para pendatang yang berasal dari daerah panas, tentunya tidak akan kewalahan menghadapi musim panas di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika baru datang, saya juga tak cemas menghadapi musim panas di pertama. Justru musim dinginlah yang lebih mengkhawatirkan buat saya. Namun ternyata, melewati satu-dua kali pergantian seluruh musim, saya sampai pada kesimpulan bahwa musim panas terasa lebih berat daripada musim dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mushi-atsui", begitulah orang-orang Jepang menyifati musim panas di negara mereka. Lembab dan panas. Penggambaran mudahnya seperti ini : kalau di Indonesia, bila kita berteduh di bawah pohon, rasanya adem. Apalagi kalau ada angin bertiup. Tapi kalau di Jepang dengan muism panas yang mushi-atsui itu, bernaung di bawah bayangan tak banyak mengurangi rasa gerah. Kelembaban udara sangat tinggi, sehingga keringat tak cepat menguap. Akibatnya, permukaan kulit jadi terasa lengket dan menambah rasa tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mushi atsui bisa menurunkan nafsu makan dan mengakibatkan kelesuan. Kondisi ini disebut, &lt;em&gt;natsu bate&lt;/em&gt;. Mungkin itu sebabnya, di musim panas banyak kegiatan yang diliburkan. Seperti misalnya anak sekolah, umumnya mereka libur selama satu bulan lebih. Sedangkan para pegawai kantoran, rata-rata sekitar 7-10 hari kerja, dan ada juga yang tiap hari tetap masuk namun dengan jam kerja yang lebih singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bersahabat dengan Serangga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim liburan panjang ini dimanfaatkan masyarakat Jepang dengan mengadakan beragam acara menarik. Kebanyakan berupa kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan alam. Seperti misalnya, untuk anak-anak, mereka akan seperti berlomba-lomba mengumpulkan aneka macam serangga. Pemandangan anak-anak yang membawa jaring-jaring penangkap dan kotak serangga, menjadi bagian khas musim panas di Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raja" serangga di musim panas yang jadi favorit adalah &lt;em&gt;kabutomushi&lt;/em&gt;, atau dikenal di Indonesia dengan sebutan &lt;em&gt;kumbang kelapa.&lt;/em&gt; Mereka berlomba-lomba mencarinya di pohon-pohon di taman sekitar tempat tinggal, bahkan ada juga yang dengan sengaja pergi ke hutan beramai-ramai sebagai bentuk kegiatan rekreasi kelompok. Selain mencari sendiri, toko-toko binatang peliharaan juga toko mainan anak, biasanya menjual serangga ini. Harganya relatif cukup mahal, berkisar di antara Y2.000 - Y10.000, atau sekitar Rp160.000-Rp800.000 perekor. Bahkan beberapa yang jenisnya spesial, di pasaran harganya bisa mencapai sekitar puluhan juta rupiah. Kabutomushi asal Indonesia, umumnya berasal dari Sumatera, Kaliman dan Sulawesi, juga cukup terkenal dan digemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Jepang biasa bermain adu kekuatan antar kabutomushi, sebagaimana di Indonesia ada permainan sabung ayam. Bentuk permainannya seperti pertandingan sumo. Dibuat satu lingkaran sebagai arena bertanding, dan kedua binatang yang dipertandingkan mesti mengangkat lawannya sampai keluar dari lingkaran itu, atau membalikkan badan lawan hingga berposisi punggung di bawah, kaki di atas. Yang bertahan di dalam lingkaran atau tetap dalam posisi berdiri sempurna, itulah pemenangnya. Beberapa saluran televisi menjadikan acara ini sebagai tayangan spesial mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hanabi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara lain yang sangat khas di musim panas di Jepang adalah &lt;em&gt;hanabi&lt;/em&gt;, atau kembang api. Dibandingkan Amerika umumnya, kembang api di Jepang terkenal lebih indah dan banyak variasinya. Acara biasanya gratis, siapa saja boleh datang ke tempat-tempat di mana pentas kembang api ini bisa disaksikan. Umumnya berlangsung sekitar jam tujuh sampai jam delapan malam, di saat udara panas sudah digantikan dengan udara sejuk karena matahari sudah terbenam sekitar tiga puluh menit sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa yang cukup terkenal di Jepang bagian selatan adalah hanabi di Enoshima, Yokohama, dan Asakusa. Umumnya lokasi peledakan kembang api dan tempat orang duduk menonton, dipisahkan dengan laut. Selain mengurangi resiko para penonton terkena percikan api, jarak yang dipisahkan oleh laut ini membuat pemandangan menjadi semakin indah. Cahaya kembang api yang bermekaran bergantian di atas terpantul di permukaan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada acara hanabi, orang-orang Jepang biasanya mengenakan busana tradisional yang disebut &lt;em&gt;yukata&lt;/em&gt;. Bentuknya seperti kimono, tapi terbuat dari bahan katun, tipis, dan umumnya bercorak warna-warna cerah untuk wanita, sedangkan untuk pria biasanya berwarna biru, abu-abu, atau putih dengan motif gambar kecil-kecil. Harganya relatif jauh lebih murah dibandingkan kimono. Berkisar Y4.000-Y10.000, atau Rp250.000-Rp800.000 perset. Kimono sendiri, biasanya sekitar empat-enam kali harga yukata, atau bahkan lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergi menyaksikan hanabi, tak ubahnya pergi menyaksikan pertunjukan orang-orang terkenal. Bedanya cuma, tidak perlu beli tiket masuk dan tak ada figur tertentu di atas pentas. Namun untuk kenyamanan dan keselamatan, sama-sama tetap perlu disiasati tumpah ruahnya penonton. Misalnya saja, dengan datang lebih awal, duduk di tempat yang lebih mudah sampai ke stasiun kereta jalur pulang, atau lebih dulu meninggalkan tempat pertunjukan, sebelum pentas hanabi benar-benar usai. Bila terjebak pada puncak arus pergi atau pulang, ada kemungkinan sulit masuk ke dalam kereta lantaran sudah sangat penuh, ataupun kemungkinan-kemungkinan kecelakaan lainnya seperti terjatuh atau terhimpit kerumunan massa. Biasanya, orang-orang Jepang bila pergi melihat hanabi, sudah mengantisipasi kemungkinan seperti ini. Mereka jarang terlihat membawa tas besar yang tentunya akan lebih menyusahkan gerak badan di tengah padatnya manusia, lebih dulu membeli karcis kereta, pergi dan pulang sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kingyo Sukui&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi acara unik lainnya yang cukup kental mewarnai musim panas di Jepang. "Kingyo sukui", begitu istilah yang akrab didengar. &lt;em&gt;Kingyo&lt;/em&gt; artinya ikan mas, &lt;em&gt;sukui &lt;/em&gt;berarti memungut atau menciduk. Diadakan di jalan raya, yang memang sudah dikondisikan untuk festival ini, seperti dipasangnya aneka umbul-umbul, lampion, dan penjaja makanan serta mainan anak, dari yang tradisional sampai yang buatan pabrik. Sarananya adalah kolam berbentuk panjang, diletakkan tepat di tengah jalan raya. Kolam panjang itu diisi air dan ratusan ikan mas kecil, juga ada beberapa ikan jenis lain yang juga relatif kecil ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kingyo Sukui di Fujisawa Ginza yang diadakan pada tahun 2002, tercatat sebagai kingyo sukui terpanjang di dunia. Panjang kolamnya 100,8 meter, dengan jumlah peserta sekitar 60.000 orang. Tahun ini, acara yang sama di tempat yang sama, kolamnya hanya sepanjang 63 meter, dengan jumlah ikan yang dimasukkan sekitar 45.000 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang ingin mencoba menangkap ikan, mesti membeli satu alat penangkap khusus. Jaringnya terbuat dari kertas, yang mudah rusak bila terkena air. Biasanya harga satuannya Y200, atau Rp16.000. Selain itu, juga diberikan mangkok gabus yang bisa jadi tempat sementara bila ada ikan yang berhasil ditangkap. Dengan dua alat ini, peserta boleh mencoba menangkap ikan sebanyak-banyaknya, sampai jaring kertas penangkapnya rusak lantaran berkali-kali dicelupkan ke air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa peserta terlihat ada yang pintar dan mengenali kecenderungan ikan-ikan tersebut. Dengan sengaja dia memposisikan mangkuknya di atas air, sehingga ikan-ikan berkumpul di bawahnya, seperti mencari naungan untuk bersembunyi dari tempat terbuka. Dengan demikian mudahlah ia menangkap beberapa ekor sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim panas di Jepang dengan segala kemeriahannya sebentar lagi berakhir. Namun indahnya daun-daun yang memerah dan menguning di musim gugur juga tak kalah menarik untuk dinikmati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-115694576703190890?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2006/08/musim-panas-di-jepang.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-114606111290965075</guid><pubDate>Wed, 26 Apr 2006 14:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-04-26T07:18:32.920-07:00</atom:updated><title>Menjelang Kematian</title><description>Seorang kawan belajar bahasa Jepang saya bercerita : istrinya bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Pekerjaannya adalah mengurus orang-orang yang sudah diperkirakan akan meninggal. Memang, istrinya mengalami berkali-kali perpisahan dengan kawan-kawan yang dirawatnya itu, bahkan menemani mereka di saat sakaratul maut. Berat katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, informasi dari kawan saya itu. Bahwa di Jepang ini, biasanya orang sudah bisa memprediksikan usianya. Dan kalau diagnosa dokter sudah menetapkan perkiraan umurnya, maka menjelang kematian, mereka akan rawat inap di rumah sakit. Berbeda dengan negara asalnya, orang meninggal bukan di rumah sakit adalah hal yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, apa begitu? Mungkin yang dia hadapi hanyalah kasus yang memang terdata. Saya pikir banyak juga orang Jepang yang meninggal begitu saja bukan di rumah sakit, tanpa persiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi entahlah, karena ketika bayi teman saya meninggal di rumah, memang ada prosedur yang cukup ribet dilakukan pihak kepolisian dan pihak rumah sakit. Kata mereka waktu itu, meninggal di rumah memang lebih merepotkan daripada meninggal di rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-114606111290965075?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2006/04/menjelang-kematian.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-114367721371351069</guid><pubDate>Wed, 29 Mar 2006 23:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-03-29T16:06:53.726-08:00</atom:updated><title>Melihat Gigi Sendiri Diperiksa</title><description>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/1671/1963/1600/0498.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1671/1963/400/0498.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jepang, kembali meluncurkan satu terobosan baru dalam bidang kedokteran : &lt;a href="http://ceatec.com/en/2005/news/ne_web_detail.html?volume=017"&gt;pasien gigi bisa melihat proses perawatan giginya! &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menonton berita ini tadi pagi, 30 Maret 2006 di NHK-saluran 1. Dan setelah melakukan pencarian di internet, saya menemukan berita ini dengan tanggal publikasi : Agustus 2005. Di dalam artikel ini, dikatakan bahwa proyek ini baru dimulai. Namun tadi dalam penayangan NHK, diumumkan bahwa terobosan ini sudah mulai dipakai di rumah sakit-rumah sakit. Jadi, dalam waktu tujuh bulan mereka berhasil memasarkan temuan yang baik dan brilian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beritanya saya copy and paste di sini saja sekalian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fortnightly Column: Team Tsukamoto's "Let's Go Wearable!"Part 3: New Style of Communication between Doctor and Patient&lt;br /&gt;In this week's column, we bring you the Dental Project, an example of applying a wearable system in a medical worksite to aid communication between doctor and patient. This system has not only been tested by Professor Tsukamoto, but is already being adopted for other patients. The possibility of putting this system on display at Team Tsukamoto's booth at CEATEC JAPAN 2005 is currently being considered, so hopefully you'll get to see how it works firsthand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dentist Uses an HMD&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:OpenFig("&gt;Camera films inside the mouth&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are probably many people who, on hearing the word "dentist," imagine the screeching sound of a drill inside their mouths. Because we cannot see the treatment we receive while in the dentist's chair, the sound of the drill undoubtedly seems louder than it actually is. However, if patients were to wear an HMD (head-mounted display) in the chair, they would be able to see all the action."You've got a lot of cavities, 10 or so." These words were uttered to Professor Tsukamoto, Chairman of Team Tsukamoto, by dentist Hiromitsu Shimizu at his dental clinic in Otsuki, Osaka. The occasion was the reunion in March 2005 of the two men, who had been classmates at junior and senior high school. To celebrate the reunion, Dr. Shimizu gave Professor Tsukamoto a dental examination. This marked the beginning of the Dental Project.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Tsukamoto goes to the Shimizu Dental Clinic every Saturday evening. Once he's in the dentist's chair he sets out a variety of devices. "Could you put these on today," he commands the dentist and the hygienist in a somewhat insolent tone. He gets them to film his teeth using a mouth camera, and the dentist explains the situation while both dentist and patient look at the images on screen. Dr. Shimizu says: "I used to have a mouth camera, but the way I used it, after I'd taken the photos I'd sit the patient up and explain what I could see. But if I use an HMD, I can explain what I'm seeing while I'm filming with the camera." He adds that this method will lead to greater operational efficiency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Tsukamoto puts a video camera on the table next to the chair and connects it to an HMD, so he can view his own examination. Dr. Shimizu remarks: "I suppose there are only a few people who would want to actually see their dental examination?" Professor Tsukamoto replies: "I disagree. It's just that they're used to not seeing what is going on. Once viewing becomes a matter of course I'm sure that people will feel frightened if they can't see what's going on." Meanwhile, Professor Tsukamoto is enjoying the sight of his teeth being scraped.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ceatec.com/en/2005/news/ne_web_detail.html?volume=017#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Can Wearable Computing Make Medical Treatment Enjoyable?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On another day, Professor Tsukamoto sits on the chair wearing his usual PC and HMD, and during treatment he begins to tap. A synthetic voice echoes around the room. "It's a little sore." "What?" asks Dr. Shimizu. "It's a little sore."It's extremely hard to hear the computer-synthesized voice in the exam room, where there is a lot of noise. However, a patient who is having his or her teeth treated is usually unable to communicate. Using a wearable computer makes this possible. Professor Tsukamoto says: "Since we're still in the initial testing stage it's not very practical, but I intend to make something that's easier to use."Although it would appear that using wearable devices has been considered for serious medical use, such as for surgery and diagnosis, there is probably a method that is more convenient and more fun for patient and doctor to use.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Professor Tsukamoto says, "The project has only just begun. It should be possible for wearable computing to play a part in facilitating more communication between patient and doctor in a way that is more fun." He tries out something new with each visit. The laughter of Professor Tsukamoto and Dr. Shimizu in this type of medical setting is too much. The enthusiasm of the pair is no doubt reminiscent of their high school days as one says to the other: "We should do a comedy skit." Professor Tsukamoto's cavity treatment continues.&lt;br /&gt;(By Masahiko Tsukamoto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:OpenFig("&gt;Patient communicates using a PC&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="javascript:OpenFig("&gt;Dentist Hiromitsu Shimizu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ceatec.com/en/2005/news/ne_web_detail.html?volume=017#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Days in the Life of Professor Tsukamoto (the Master of Wearable Computing)&lt;br /&gt;August 31:My KeyboardMy keyboard was playing up, so I bought a new one. My old one would turn itself on and off of its own free will. Maybe some of the internal wiring became disconnected. Or, was the mother board broken? The other day when I was participating in a panel discussion, my intention was to speak while taking notes with my keyboard on the table. But my attention was diverted to my keyboard because it was acting up, so my comments didn't make much sense and I made a mess of things. The total time was extremely short so I didn't get another turn to speak, although someone told me that I came across okay...My new keyboard was made by a different manufacturer. The size is about the same, but the response of the keys is extremely bad. I thought it might be defective, because I have to push down hard on the keys to make them work. It's hard enough when I'm using it at a desk, but it's virtually impossible when I'm standing or walking. At first, I thought the problem was my poor typing technique, but that can't be the reason because I can even type using an old typewriter. I was wondering whether to take it back to be repaired, but it'll take some courage to do that. Even in today's meeting, I was so caught up in pressing the keys that I couldn't concentrate on what was being said. I've found that the state of my input device makes a big difference to how well the day goes.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://ceatec.com/en/2005/news/ne_web_detail.html?volume=017#top"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;--------------------------------&lt;br /&gt;ProfileTeam TsukamotoOfficial name: Wearable Computer Research and Development OrganizationAn industry-government-university research and development group involved in wearable ubiquitous computing and HMDs, spearheaded by Professor Masahiko Tsukamoto of the Department of Electric and Electronic Engineering, Engineering Faculty, Kobe UniversityThe Team's ChairmanMasahiko TsukamotoProfessorDepartment of Electrical and Electronics EngineeringFaculty of EngineeringKobe UniversityTo people in the know, he is the Master of Wearable Computing. For better or for worse, Professor Tsukamoto is responsible for promoting the current image of wearable computing. He has been wearing an HMD in daily life for more than four and a half years. Those who catch sight of him once are not likely to forget him.Born in 1964, Professor Tsukamoto graduated with a Bachelor's Degree in Engineering from Kyoto University in 1987. After obtaining a Master's Degree in Systems Engineering in 1989, he joined Sharp Corporation, where he worked as a research engineer. In March 1995, he joined the Department of Information Systems Engineering at Osaka University as an assistant professor, becoming an associate professor in 1996. In 2002, he became an associate professor in multimedia engineering. In October 2004, he joined the Electric and Electronic Engineering Department of the Engineering Faculty of Kobe University.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-114367721371351069?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2006/03/melihat-gigi-sendiri-diperiksa.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-24620260.post-114314930020380215</guid><pubDate>Thu, 23 Mar 2006 21:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2006-03-23T13:28:20.213-08:00</atom:updated><title>Mandi Pagi vs Mandi Malam</title><description>"Kehidupan baru terasa di 'komunitas' itu ketika jarum jam menjelang pukul 09.00 wita. Para &lt;em&gt;payabo &lt;/em&gt;(pemulung) telah bangun dari tidurnya dan bergegas membersihkan badan di sumur ataupun kamar mandi berdinding seng bekas dan beratap langit belaka, buatan sendiri. " (Makassar Nol Kilometer, p.58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca kalimat di atas, saya jadi memikirkan mengapakah budaya bersih-bersih badan di tempat kelahiranku, biasanya dilakukan di pagi hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepang, orang biasanya membersihkan badan pada malam hari. Itu karena di pagi hari mereka harus bisa bergerak cepat. Tidur pun juga harus betul-betul efektif, nyenyak, dengan keharuman dan terhindar dari gatal-gatal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/24620260-114314930020380215?l=indonesiajepang.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://indonesiajepang.blogspot.com/2006/03/mandi-pagi-vs-mandi-malam.html</link><author>noreply@blogger.com (Closer to Japan)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item></channel></rss>